
Menanggapi hal tersebut, Jokhanan mengkuatirkan fenomena tersebut akan menghasilkan generasi strawberry yang cemen. Ia mencontohkan kasus yang terjadi di salah satu sekolah. Hanya gara-gara AC, siswa yang merasa kepanasan tadi melaporkan ke orangtuanya. Kemudian si orangtua langsung menilpun dan marah-marah ke Kepala Sekolah. Oleh karena itu Jokhanan menekankan pentingnya pendidikan pertama berasal dari keluarga.
Pendapat senada juga disampaikan Bagus Irawan. Menurut Bagus, rata-rata orangtua jaman sekarang menempatkan sekolah sebagai satu satunya tempat mendidik anak. Ini jelas anggapan keliru. Padahal pertemuan di sekolah hanya beberapa jam. Selebihnya adalah tugas orangtua dalam mendidik anak.
Pendapat menarik disampaikan Yudith, walaupun dengan bahasa humor. Menurutnya, tidak ada murid yang bermasalah. Yang bermasalah adalah orangtua.
- Diikuti Ratusan Pasang Peserta, Turnamen Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Dimulai
- Dari “Bupati R” ke Ridwan Kamil, Drama Ayu Aulia Masuk Fase Membingungkan
- Dari Salah Nilai ke “Perang Status”, Juri LCC 4 Pilar Kini Bukan Lagi Dipersoalkan karena Keputusan, Tapi Sikapnya
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
“Murid-murid yang membuat masalah di sekolah itu karena dia di rumah tidak mendapat cinta dan perhatian. Maka dia di sekolah tidak mencari pelajaran tapi mencari cinta yang hilang itu, antara lain dengan berulah macam-macam” ujarnya. Yudith juga menekankan pentingnya pendidikan dan perhatian orangtua.
Sabrang Neo Letto menyoroti tiga lingkar ruang belajar anak yang mempunyai peran dan tanggung jawab yang beda namun masing-masing saling berkaitan. Yang pertama adalah pendidikan di rumah. Orangtua punya kewajiban untuk mengajari anaknya nilai-nilai dan berperilaku sebagai manusia, antara lain mencakup sopan santun, adab, menghormati orangtua, mau mendengarkan, akhlak dan
Lingkar kedua adalah ruang belajar di sekolah. Menurut Sabrang, hakekat sekolah adalah mengajari ilmu dari generasi sebelumnya yang sudah dikodifikasi, misalnya sudah ditulis, sistematika, cara berpikir, strukturnya jelas dsb. Ia memberi contoh pelajaran Matematika yang sudah dikodifikasi untuk memecahkan masalah manusia.
Lingkar ketiga adalah ruang publik, menyangkut ilmu yang tidak bisa dikodifikasi. Hal ini berkaitan dengan tenggang rasa, kreatifitas, keberanian menyatakan pendapat, prestasi kerja dan sebagainya. Jika seseorang sudah dibekali dengan ilmu di lingkar pertama dan kedua yang baik, maka dia akan manusia unggul di ruang publik.
Mengenai ruang publik, dalam kesempatan tersebut Jokhanan Kristiyono menegaskan bahwa Stikosa AWS memang menyediakan ruang publik untuk saling belajar, diskusi secara terbuka diluar sekat-sekat ruang kampus. Dua acara diskusi bulanan, yakni Munio ! dan Majelis ilmu Bangbang Wetan ini adalah komitmennya untuk membuka ruang publik bagi siapa saja yang mau belajar.***
(Redho)
- Diikuti Ratusan Pasang Peserta, Turnamen Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Dimulai
- Dari “Bupati R” ke Ridwan Kamil, Drama Ayu Aulia Masuk Fase Membingungkan
- Dari Salah Nilai ke “Perang Status”, Juri LCC 4 Pilar Kini Bukan Lagi Dipersoalkan karena Keputusan, Tapi Sikapnya
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel








Tinggalkan Balasan