Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6835 Lihat semua

JAKARTA, FAKTA1.COM – Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, pada Rabu (15/4/2026).

Pertemuan ini menjadi ajang penguatan solidaritas di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi Iran.

Dalam pertemuan tersebut, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan empati mendalam serta dukungan moril bagi rakyat Iran. Ia berharap konflik yang terjadi di wilayah tersebut dapat segera mereda demi kemanusiaan.

“Kami mendoakan agar situasi yang dihadapi Iran segera membaik, serta masyarakatnya diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Nasaruddin pada Kamis (16/4/2026).

Ikatan Keimanan dan Sejarah
Nasaruddin menekankan bahwa hubungan antara Indonesia dan Iran bukan sekadar relasi diplomatik formal. Ia menyebut adanya landasan historis dan nilai-nilai keagamaan yang sangat kuat di antara kedua negara.

“Hubungan kedua negara tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga dilandasi nilai-nilai keimanan dan persaudaraan yang telah terjalin lama,” tambah Menag.

Sementara itu, Dubes Mohammad Boroujerdi memaparkan kondisi terkini Iran yang tengah menghadapi berbagai tantangan berat. Kunjungan ini dianggap sebagai langkah krusial untuk memperkuat dukungan moral antarnegara sahabat, sekaligus menjadi momentum untuk mempererat kerja sama di bidang keagamaan, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama.

Latar Belakang: Iran Tuntut Kompensasi Rp4.623 Triliun

Pertemuan diplomatik ini terjadi di tengah upaya Iran menuntut keadilan internasional. Sebelumnya, pada Selasa (14/4/2026),

utusan Teheran untuk PBB menyatakan menuntut kompensasi atas kerusakan masif yang disebabkan oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Iran juga menuntut pertanggungjawaban dari lima negara di kawasan yang wilayahnya diduga digunakan sebagai titik peluncuran serangan. Sebagai salah satu solusi, Iran mengusulkan mekanisme kompensasi melalui penerapan pajak bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Data Kerugian Iran:

Total Kerugian: Est. USD 270 miliar (sekitar Rp4.623 triliun).

Penyebab: Kerusakan langsung dan tidak langsung sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Fasilitas Terdampak: * Sektor Energi: Kilang minyak, gas, dan petrokimia.

Industri: Pabrik baja dan aluminium.

Infrastruktur: Jembatan, pelabuhan, jaringan kereta api, dan pembangkit listrik.

Sosial: Rumah sakit, sekolah, universitas, hingga pemukiman warga.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyatakan bahwa penilaian kerusakan infrastruktur vital masih terus dilakukan. Isu kompensasi ini telah dibahas dalam perundingan di Pakistan pekan lalu dan dijadwalkan akan kembali dibahas dalam pertemuan lanjutan dengan AS serta para mediator internasional.

Melalui pertemuan ini, Kementerian Agama RI berkomitmen untuk terus berperan sebagai jembatan dalam membangun harmoni dan persaudaraan antarbangsa di tengah dinamika geopolitik global.

(Tim Humas Kemenag)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.