
Lebih lanjut, Wahyu mengaku bahwa ekspedisi tersebut menjadi salah satu perjuangan mental yang luar biasa. Sepanjang perjalanan, peserta dituntut menjaga konsentrasi karena harus melewati medan alam yang berat dan penuh tantangan.
“Ini sebenarnya merupakan salah satu perjuangan mental yang luar biasa bagi saya. Bagaimana kami harus terus berkonsentrasi setiap melangkah karena medan yang kami hadapi benar-benar berat. Bahkan, saya sempat berpikir, mengapa saya berada di tempat ini dan apa sebenarnya tujuan dari perjalanan ini?” katanya.
Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, Wahyu akhirnya menemukan makna tersendiri. Ia meyakini bahwa perjalanan itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Konawe memiliki kekayaan alam dan potensi wisata yang luar biasa.
“Saya menganggap mungkin inilah jawaban dari Tuhan, agar saya bisa menyampaikan kepada masyarakat Kabupaten Konawe bahwa daerah kita ini sangat kaya, wilayahnya begitu luas, dan memiliki begitu banyak potensi wisata alam yang luar biasa. Potensi ini harus kita kenali, kita jaga, dan kita kembangkan,” jelasnya.
Selain tantangan medan, Wahyu juga menceritakan pengalaman menarik ketika menghadapi tawon di beberapa titik persinggahan atau pos tempat tim bermalam.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga ketenangan dalam menghadapi situasi tidak terduga.
“Kalau biasanya kita berada di kampung dan melihat seekor tawon saja sudah panik. Tetapi ketika berada di lokasi ekspedisi, kami justru belajar bagaimana menghadapi situasi tersebut dengan tenang. Kami belajar mengendalikan diri, tetap berkonsentrasi, dan tidak mudah panik,” ungkapnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
“Pesan saya kepada seluruh generasi muda dan generasi penerus, mari kita bersama-sama menjaga alam. Sebagaimana slogan Badan Penanggulangan Bencana, ‘Alam Jaga Kita’. Sebab, alam memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Jika hari ini kita tidak mampu menjaga alam, maka kita tidak pernah tahu bagaimana nasib anak cucu kita di masa yang akan datang,” pesannya.
Setelah menyelesaikan perjalanan, rombongan ekspedisi yang berjumlah 27 orang tiba di Rumah Jabatan Wakil Bupati Konawe.
Kedatangan mereka menjadi momentum untuk menyampaikan hasil penelusuran sekaligus berbagi pengalaman selama perjalanan. Dalam suasana diskusi dan tanya jawab bersama Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., sejumlah anggota tim menceritakan berbagai pengalaman suka maupun duka saat menembus medan ekspedisi.
Berbagai cerita tersebut menjadi bagian penting dari upaya mendokumentasikan potensi alam, sejarah, dan kebudayaan Konawe.
Ekspedisi Latoma–Routa meninggalkan lebih dari sekadar jejak perjalanan. Kegiatan ini membuka kesadaran bahwa Kabupaten Konawe memiliki kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang perlu terus ditelusuri, dikenali, didokumentasikan, serta dikembangkan secara bertanggung jawab.
Pengalaman Santi Nilawati Lamambo, Eddy Sulfriadi Lamambo, dan Wahyu menjadi gambaran bahwa ekspedisi tersebut bukan hanya tentang keberanian menembus medan, tetapi juga tentang membangun ketangguhan mental, menumbuhkan kecintaan terhadap alam, serta memperkuat kepedulian terhadap warisan daerah.
Pesan yang mengemuka dari perjalanan tersebut adalah pentingnya menjaga kelestarian alam agar kekayaan yang dimiliki Konawe saat ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Jangan sampai generasi hari ini menikmati kekayaan alam, sementara anak cucu kelak hanya mewarisi kerusakannya.





Tinggalkan Balasan